Riuh!



Benar ternyata. Ajang pemilihan presiden ini membuat negeri kami terdengar sangat riuh. Tidak di luar rumah, tidak pula di dalam rumah, tidak di warung kopi, tidak pula di toko roti, mereka menopikkan hal yang sama. Tapi ini di luar dugaan. Saya sempat heran, ini pemilihan presiden atau pemilihan nabi sebenarnya. Antusiasme berubah menjadi fanatisme. Gambar pak anu di rubah menjadi seperti anu biar terlihat anu, begitu pula dengan pak anu. Riwayat hidup pak anu dikorek-korek biar terlihat anunya, agar mereka yang anu menjadi bimbang untuk mendukung pak anu, begitu pula dengan pak anu.

Tapi ini terlepas dari “para ekor sapi” yang agresif, yang saling menyambar satu dengan lainnya, ya, meskipun “kepala sapi” biasa-biasa saja di ibukota sana. Saya kagum dengan para calon pemimpin sekarang. Kelihatannya mereka para pria penyuka tantangan. Saya kira memimpin sebuah bangsa bukanlah pekerjaan yang mudah. Saya yakin mereka sadar bahwa mengurus negeri plural berbeda dengan mengurus ternak yang beraneka ragam. Menyejahterakan rakyat pun juga berbeda dengan membahagiakan calon mertua. Ini pekerjaan rumit, kompleks, ribet, dan harus dilakukan oleh profesional. Setiap tindakan akan disorot, baik terekam oleh kamera, ditulis oleh surat kabar, bahkan dicatat oleh malaikat yang (mungkin) telah siaga dengan bolpoin dan buku catatannya.

Tapi kekuasaan berkata lain. Ia bak gurun pasir yang memberi oase kecil bagi puluhan unta yang kehausan. Ia menarik, menjanjikan kenikmatan dan penghidupan. Ia mutlak akan menjadi bahan rebutan. Tapi bukankah kata rebutan terdengar tidak ramah? Mungkin pada akhirnya akan bisa kita tebak. Para unta gelap mata, saling sikut, saling menumbangkan, bahkan tak segan untuk saling membunuh. Tapi apa daya, ketidakramahan seperti inilah yang malah seringkali terdengar.

Seperti yang pernah dikatakan Goenawan Mohamad, “Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol. Lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang (alangkah nikmatnya!) bisa bikin orang iri.” Ya, tak banyak memang. Tapi setidaknya khalifah Islam kedua: Umar bin Khattab dan presiden Amerika ketiga: Thomas Jefferson telah membuktikan sesuatu yang lain. Mereka melihat sebuah kekuasaan dari sudut pandang lain. Sesuatu yang tidak terlihat gemerlap dan penuh kebebasan (baca: kesewenangan), melainkan sesuatu yang benar-benar berat dan mengekang (baca: menuntut tanggung jawab).

Untuk para pria penyuka tantangan: “Boleh, jika kalian anggap ini sebagai Fahombo di Pulau Nias.”





Yogyakarta, 24/6/2014

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram