Generalisasi



Generalisasi, kelihatannya sudah dipandang menjadi sebuah kebenaran.

"Ah, semua laki-laki sama saja, semua buaya." kata perempuan itu setelah putus dari pacarnya; hingga akhirnya ia menemukan suami yang setia, dan ternyata bukan buaya.

"Ah, Yahudi itu semua biadab, suka buat keributan dan peperangan." kata kaum agamawan non-Yahudi itu; hingga akhirnya mereka tahu bahwa banyak masyarakat Yahudi di Israel yang berdemo untuk menentang peperangan, bahkan mereka berdoa di Tembok Ratapan dan berharap semuanya selesai dengan damai.

"Ah, penjajah Belanda semua kejam, suruh tanam paksa, belum lagi semena-mena pada rakyat kita." kata seorang anak yang baru membaca satu buku sejarah itu; hingga akhirnya ia menemukan ada seorang yang bernama Douwes Dekker atau Multatuli yang menentang semua kesemena-menaan negerinya tersebut dengan menulis novel perlawanan yang berjudul "Max Havelaar".

Tentang Belanda ini, saya jadi ingat intermezzo kecil yang pernah disampaikan di kelas. Sebuah obrolan yang sebelumnya juga sering saya dengar dari kawan-kawan.

Katanya, imperium Belanda mencetak negara-negara miskin dan sulit berkembang. Sedangkan imperium Inggris sebaliknya, begitu cepat melejitkan negara untuk menjadi maju. Mungkin ada benarnya. Hanya saja masih ke-"mungkin"-an, karena pernyataan ini juga sebatas bersandar dari "katanya". Semua ambigu.

Dan sayangnya, kita adalah negara yang dikategorikan sebagai imperium Belanda. Dengan kesimpulan: Indonesia miskin dan sulit berkembang. Coba lihat negara tetangga yang bekas persemakmuran Inggris itu, banyak sektor yang mana kita masih tertinggal di bawahnya. sampai muncul banyak pernyataan balik atas itu semua -semacam kelakar umum- yang berbunyi "andai saja kita dulu dijajah Inggris".

Tapi amatilah kelakar ini, ada semacam kepasrahan di sana. Juga penyalahan masal terhadap sebuah takdir, terhadap sebuah ketentuan. Berpikir kita ke belakang, dan berharap ada bentuk penderitaan lain yang bekasnya masih bisa untuk dinikmati. Andai Bung Karno masih hidup, pasti akan banyak yang kena marah. Karena ia sendiri bukan tipe tukang pasrah. Baginya: kita, pribumi, "inlander", pokoknya harus bangkit, haram untuk manja dan wajib berdikari (berdiri di atas kaki sendiri; sebuah akronim yang sering disuarakan oleh Bung Karno). Dalam pidato-pidatonya yang membakar semangat, ia pun berani mengancam Amerika dengan setrika dan mengancam Inggris dengan linggis. Bagi saya, itu lebih mengesankan daripada kita harus memilih untuk dijajah siapa agar bisa menjadi maju.

Karena itulah, ada ketidaksetujuan bagi saya sendiri, bahwa yang menentukan maju tidaknya suatu bangsa harus ditentukan oleh imperium Belanda atau Inggris, atau bahkan Jepang. Banyak faktor yang harus dipenuhi, di banyak ranah yang memang seharusnya saling mendukung satu sama lain. toh mau bagaimana pun, ikhwal imperium ini tidak bisa dipertanggungjawabkan sepenuhnya.

Karena begini, Belanda memang menjajah, tapi kemudian Inggris juga ikut menyusul. Tahun 1811, Sir Stamford Raffles dan kawan-kawan ganti menggilir kita (Indonesia) bak piala bergilir yang sudah waktunya berpindah tangan. Bahkan nama "Indonesia" sendiri merupakan ciptaan dari seorang etnolog Inggris pada waktu itu. Walau pada akhirnya Inggris merasa tidak cocok dengan pribumi kita, lalu mereka memutuskan untuk pulang kampung. Dan itu artinya, kita pernah dijajah oleh keduanya.

Lagipula tidak semua imperium Inggris menjadi negara maju. sebuah narasi poskolonial pernah ditulis oleh seorang pengajar bidang penulisan kreatif di Universitas Harvard. Jamaica Kincaid namanya, ia menulis tentan Antigua, sebuah negeri kecil -jauh lebih kecil dari Singapura- yang terletak di antara Samudera Pasifik dan Laut Karibia, yang dalam sejarahnya merupakan negeri jajahan Inggris sepenuhnya. Tapi apa yang digambarkan oleh Kincaid dalam bukunya "A Small Place" tersebut tidak ada yang menampilkan ciri-ciri negeri yang maju sama sekali. Pemerintah yang korup, kapitalisme yang tak terbendung, sekolah yang mengajarkan diskriminasi, dan perpustakaan yang terlantar, merupakan potret dari peninggalan imperium Inggris masa lalu. Kincaid sebagai pribumi marah terhadap Barat, Inggris utamanya. Antigua lebih parah dari Indonesia.

Dan pada akhirnya, segala argumentasi akan dipertanyakan kembali. Adakah ia menggeneralisasikan? Adakah ia menyamaratakan segalanya, yang pada dasarnya tidak semuanya bisa rata?

Kita pun dituntut bijaksana.



Yogyakarta, 25/9/2014

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram