Anak-anak Lereng



Di secuil sore yang hampir habis, lebih dari lima anak berduyun-duyun pulang. Sebagian bersepatu, sebagian lagi tanpa alas apapun menempel di telapak kakinya. Satu di antaranya membawa sebuah bola. Terlihat banyak bercak coklat yang tadinya basah dan mulai mengering di sekujur tubuh. Mereka lusuh, berlumpur, sewarna dengan pakaian dan sepatu bola mereka. Anak-anak itu, terus berjalan dengan canda yang seakan tiada habisnya. Seorang anak terlihat menyempitkan mata, mulutnya terbuka, dengan mentimun yang belum selesai dikunyah di dalam sana. Lalu pecahlah sebuah tawa, suara lugu yang menyampaikan pesan singkat, “bahwa kami sedang bahagia”.

Anak-anak lereng yang beruntung. Di zaman yang banyak merenggut kebebasan anak-anak, ternyata masih ada yang kecipratan kebebasan di dalamnya. Di lereng yang sudah mulai terasa dingin itu, anak-anak masih bisa bermain bola. Mereka masih berkesempatan merasakan interaksi sosial yang erat, juga dalam, di antara mereka. Adalah sebuah kebebasan sejati, ketika mereka membuat peraturannya sendiri, di lapangan berlumpur yang juga milik mereka sendiri. Benda bulat buatan pabrik yang mereka kejar-kejar itulah lambang kebebasan sebenarnya. Bukan dalam gadget anak-anak kota. Bukan.

Matahari yang tak bisa dibendung turun memaksa mereka untuk menyelesaikan tugasnya di lapangan. Mereka pulang, tapi memilih tak sekedar pulang. Anak-anak lereng itu mencari jalur yang lebih jauh menuju rumahnya. Mereka memilih jalan yang menyajikan bentangan ladang mentimun yang menggiurkan. Sebuah dongeng fabel yang populer di Indonesia sejak dulu, seakan hidup di sini. Tapi jangan mengkambinghitamkan kancil dalam cerita ini, karena bocah-bocah kecil itu yang melakukannya. Mungkin mereka merasa cerdik dengan mencuri timun, atau mungkin karena Pak Tani di lereng Gunung Sumbing ini tidak suka memasang jebakan di ladangnya. Di sore yang mendung -tapi tak kunjung turun hujan- itu, anak-anak masih bisa merasakan kenikmatan menjadi bocah nakal. Sebuah pengalaman yang akan terus indah meskipun anak-anak itu telah mempunyai anak, atau bahkan anak dari anak-anaknya.

Bukan perkara kriminal yang kita bahas, tapi kepolosan mereka yang patut kita lempari senyuman. Sekali lagi mereka beruntung, karena sepuluh tahun yang akan datang, mungkin modernisasi akan masuk ke lereng ini. Dan mereka, anak-anak lereng, akhirnya telah menyelamatkan masa kecilnya dengan memakai segala fasilitas kebebasan yang ada. Teman bermain, ladang mentimun, bola dan lapangan berlumpurnya. Karena kebebasan adalah hak mereka, bukan milik zamannya, lingkungannya, bahkan aturan orang tuanya. Merekalah “anak-anak” Tuhan, yang sengaja dititipkan melalui rahim seorang ibu. “Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu…” kata Kahlil Gibran.

Dan begitulah anak-anak lereng di akhir tahun 2014 yang selalu mendung. Mereka masih berkesempatan memakai baju kultural yang longgar, ketimbang baju modernisasi yang ketat.


Wonosobo, 4/10/2014

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram