Bahasa Indonesia



Hari ini, berbagai opini reflektif tentang Sumpah Pemuda banyak membanjiri media; kebanyakan dari mereka berbicara tentang bahasa.

Memang seberapa pentingkah bahasa, hingga para pemuda di era 20 ‘an sampai berani bersumpah-sumpah untuk itu?

Sebuah pertemuan singkat di Jogja National Museum beberapa waktu lalu, yang diadakan oleh Wikimedia Indonesia kebetulan sedang membahas bahasa. Bahasa Daerah tepatnya. Pembicaraan “ngalor-ngidul” itu akhirnya menemui sebuah kesimpulan, bahwa posisi Bahasa Daerah memang sangat penting. Tanpanya, budaya daerah akan punah. Karena bahasa merupakan selimut dari sebuah budaya, bahkan peradabannya. Bagaimana kita mau menikmati pertunjukan wayang, jika Si Dalang tak mampu berbahasa daerah dan para sindennya yang lebih senang menyanyikan lagu-lagu Taylor Swift. Akankah kita yang bersuku Jawa merasa percaya diri mengaku sebagai orang Jawa, jika kita yang ternyata lama hidup di Eropa sama sekali tak mampu berbahasa Jawa. Pun dengan suku-suku lain: Sunda, Batak, Madura, dan sebagainya.

Lebih dari persoalan Bahasa Daerah, perbincangan kemarin juga menyimpulkan sesuatu yang lain. Bahwa tanpa adanya para pelancong ilmu dari berbagai belahan dunia yang belajar di Yunani pada masa itu, mungkin filsafat tak akan sampai kepada kita. Tanpa adanya raja-raja dari Bani Abbasiyah yang getol menerjemahkan buku-buku filsafat, mungkin juga kita tak akan menjumpai modernisasi. Bahasa Yunani Kuno terselamatkan oleh mereka, dengan berbagai ilmu pengetahuan yang mereka bawa dari sana. Ya, karena mereka tahu, bahwa bahasa memiliki peran lebih fundamental jika dibandingkan dengan filsafat itu sendiri, maka dari itu mereka lebih dulu mempelajari bahasanya mulai dari A sampai Z.

Bahasa pun kemudian banyak diperjuangkan. Tidak usahlah kita jauh-jauh mengambil contoh Korea yang rela membayar orang lain untuk mempelajari bahasannya. Atau sekadar kita mengintip Tiongkok yang bangga dengan Bahasa Mandarinnya dan orang-orang Wales yang bangga dengan bahasa mereka yang sulit diucapkan karena lebih banyak berisi huruf konsonan. Entah bagaimana di negeri ini. Adakah kebanggaan itu ada di dalamnya?

Saya kira bukanlah suatu hal yang berlebihan jika 86 tahun yang lalu para pemuda sampai rela bersumpah atas nama bahasa. Saya kira tidak sia-sia juga jika dulu Jepang pernah membangun Komisi Istilah sebagai bentuk kepeduliannya terhadap kejernihan Bahasa Indonesia. Atau tulisan-tulisan sastrawi Chairil Anwar dan Idrus yang menjadi titik awal munculnya sastra berbahasa Indonesia. Dan Muhammad Yamin, yang kemudian menjadi pahlawan bahasa –menurut Pramoedya A.T- karena Sumpah Pemuda dan sosialisasi Bahasa Indonesianya.

Karena pada dasarnya kita adalah bangsa yang besar dengan bahasa yang besar pula. Bagaimana tidak, Bahasa Indonesia kini telah dipelajari di 45 negara di dunia. Di Australia, Bahasa Indonesia merupakan bahasa populer keempat. Bahkan di sana telah dimasukkan dalam kurikulum pendidikan Sekolah Dasar hingga Menengah. Mengingat benua terkecil itu adalah tetangga kita dan banyaknya mahasiswa kita yang belajar di sana (Australia adalah negara yang menjadi tujuan terbanyak mahasiswa Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia). Di Vietnam, Bahasa Indonesia secara resmi dijadikan bahasa asing kedua –barangkali setelah Bahasa Inggris-. Sedangkan di Timur Leste, Bahasa Indonesia telah dijadikan bahasa kerja yang digunakan sehari-hari.

Entah alasan apa yang dapat kita kemukakan untuk tidak membanggakan bahasa yang sejak dulu digaungkan sebagai bahasa persatuan ini. Seharusnya kita bersyukur, Bahasa Indonesia telah mampu menyelimuti semboyan Bhineka Tunggal Ika kita dengan sempurna. Coba lihatlah Malaysia yang harus bersusah payah menyatukan ras-ras India, Melayu dan Cina di negeri mereka yang mana masing-masing hidup dengan ego kebahasaan mereka.

Kita tak wajib bersumpah atas nama bahasa seperti dulu. Tapi kita perlu menjaga api bahasa ini agar tetap menyala supaya peradaban tetap merasa hangat. Dan pada akhirnya, kita tak perlu merasakan dinginnya kebekuan untuk hidup di dalamnya. Di dalam Indonesia.


Yogyakarta, 28/10/2014

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram