Mistisme

sumber: rebloggy.com

Yogyakarta, 16/2/2015

Siang itu panas menyengat, dan terlepas dari teori seleksi alam Darwin, saya bersyukur bahwa Tuhan tidak menjadikan “ras khatulistiwa” seperti kami berkulit putih, kalau tidak pasti banyak dari kami yang sudah terkena kanker kulit. Tapi ternyata, rasa penasaran tidak mengenal kata panas atau berbagai hambatan lain. Ya, siang kemarin Sujiwo Tejo singgah ke Jogja. Ia menjadi tamu spesial di acara yang diadakan mahasiswa PMII Rayon Pembebasan di pelataran Planet Bookstore, Yogyakarta. Tak hanya itu, ia juga “dipaksa” untuk membedah buku dwilogi terbarunya, “Rahvayana: Ada yang Tiada”, dengan didampingi satu tamu lainnya yang sekaligus menjadi moderator acara: Mas Rudy Gunawan. Ah, dua orang ini setidaknya sudah pernah saya temui dari tulisan-tulisannya. Dan akhirnya, sampailah sudah rasa penasaran ini pada titik tertingginya. Saya pun datang.

Di sana Mbah Jiwo berbicara banyak, juga bernyanyi. Salah satu pembicaraan menyinggung tragedi perebutan Sinta oleh Rama dari tangan sang penculiknya: Rahwana, yang kemudian dikaitkan dengan konflik KPK-Polri yang berkepanjangan itu. Tapi Mbah Jiwo lebih suka angkat tangan perihal yang terakhir. Bukannya tidak ingin memihak, tapi bisa jadi keduanya sama benarnya. Katanya, ada sebuah segitiga penghubung antara kebaikan dan keburukan. Dua sudut segitiga bagian bawah adalah kebaikan dan keburukan itu, dan jika ditarik semakin ke atas maka kebaikan dan keburukan pada saatnya akan menemui titik temunya. Segala hal, pada dasarnya tidak bisa dihakimi dengan oposisi biner: hitam dan putih begitu saja.

Memang begitulah Sujiwo Tejo, tak bisa sekalipun berceramah tanpa membicarakan hal berbau matematika, meski itu berarti hanya tiga buah sudut segitiga sama kaki. Saya menemukan banyak sisi unik dan (bahkan) spiritual pada dirinya. Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, ia tak hanya sekadar budayawan dengan celetukan-celetukan masuk akalnya, melainkan ia juga seorang filosof dengan kecemerlangan daya pikirnya, juga seorang “sufi” yang tak pernah selesai dengan pembicaraan hakikatnya.

Ada yang menarik dari acara kemarin. Pada sesi tanya jawab, seorang mahasiswa bernama Budi pun memberanikan diri untuk bertanya. Dan berkat keberaniannya itulah suasana semakin meriah. Pertama, ketika kesalahan penyebutan “Sastrojendro” menjadi “Sastrajanda” yang kemudian memecah riuh tawa bersama, yang dipimpin langsung oleh Mbah Jiwo dengan suara tawa yang paling keras. Kedua, Mbah Jiwo mengatakan bahwa ada pertanda antara hubungan penanya “Budi”, moderator “Gunawan”, dan penyelenggara acara “Rayon Pembebasan”. Dengan diiringi tawanya Mbah Jiwo berkata, “Jangan-jangan Budi Gunawan mau dibebaskan.” Persoalan KPK-Polri pun disinggung kembali. Berita politik yang lebih banyak membuat geram dari pada menenangkan hati pun harus saya dengar kembali juga.

Namun yang lebih penting adalah ketika beberapa kali Mbah Jiwo menyebut kata pertanda, saya jadi ingat Emha Ainun Nadjib. Jika Mbah Jiwo berkata, “Di dunia ini semua bisa menjadi pertanda,” maka salah seorang tokoh lain yang saya kira menyetujui ungkapan tersebut adalah Emha. Saya ingat ketika menghadiri salah satu majelis bulanan Emha di Yogyakarta: Mocopat Syafaat, ketika di tengah-tengah Emha sedang berbicara, ia mendapat pesan bahwa pesawat Malaysia Airlines MH17 jatuh di Ukraina. Saat itu juga, ia pun mengaitkannya dengan Surat Muhammad ayat 17 dalam Al-Qur’an.

Tapi inilah Indonesia. Secara geografis kita masuk dalam wilayah bangsa Timur. Dan tak usah ditanyakan lagi, bahwa khas ketimuran kita adalah mistisme. Lawan tegas dari Barat yang menjunjung tinggi rasionalisme. Menangkap pertanda adalah aktivitas mistisme. Dan saya hanya sedikit bingung, harus memosisikan diri di mana, karena keduanya bisa jadi sama-sama benarnya, sebagaimana segitiga baik dan buruk tadi.

Hari ini, di siang yang masih sama panasnya, seorang dosen seakan mengingatkan saya pada apa yang kemarin disebut-sebut sebagai pertanda. Seorang dosen yang juga (semoga) menjadi pertanda bagi saya sendiri. Seorang dosen alumnus SOAS, Universitas London, salah satu kampus yang sudah tercatat di daftar tujuan master saya jauh-jauh hari sebelumnya. Lalu kami pun bertemu dalam satu kelas. Namun bukan pertanda itu yang akan kita bicarakan. Hari ini di kelasnya, beliau datang terlambat. Dan barulah di pertengahan mengajarnya beliau mau mengatakan alasannya datang terlambat. “Melihat siaran langsung pra-peradilan Budi Gunawan.” katanya. “Budi Gunawan dibebaskan!”. Ya, itu sebuah kalimat lanjutan yang membuat saya sedikit (mungkin juga banyak) tercengang. Tak hanya berhenti di sana, sang dosen juga membicarakan perihal penilaian kita terhadap sesuatu, juga terhadap orang lain. “Kita jangan suka menilai segala sesuatu secara hitam putih. Di dunia ini ada juga hitam keputih-putihan, ada juga putih kehitam-hitaman.” katanya, dengan nada khas santun beliau. Tapi yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah, apakah hidup ini memang benar-benar pertanda? Apakah selalu ada kebetulan-kebetulan yang sengaja Tuhan ciptakan sebagai sebuah peringatan atau semacamnya?

Dalam salah satu kesempatan Emha pernah berkata, “Betul sama dengan Benar. Maka kebetulan adalah kebenaran itu sendiri.” Dan saya curiga, bahkan dengan adanya tulisan ini menunjukkan bahwa saya adalah seorang mistisis.

Komentar

  1. nek kamu maleh dadi praktisi mistis, aku gk mau dituduh sebagai penyebabnya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku: Antara Isi dan Harga Diri