Demi Nirwana



Barangkali kita sudah bosan melihat ratusan, ribuan, bahkan jutaan konflik yang terjadi di seluruh dunia hingga saat ini. Sebagian dari mereka mengibarkan bendera agama di tangan kiri dan pedang di tangan kanannya, atau mungkin bom rakitan yang menempel di perut dan dada. Sebagian lagi memegang kitab suci di tangan kanan, dan bendera golongan di tangan kiri, lalu mulut mereka sibuk menggerutu dengan diakhiri teriakan: “Sesat!”. Korban pun berjatuhan. Ada diskriminasi, intervensi, pengkafiran, hingga perang saudara. Darah di mana-mana, spanduk bernada kebencian di gantung di tiang-tiang, buku-buku dengan judul provokatif laku keras.

Semua tragedi ini sebenarnya adalah ‘lagu’ lama. Klaim atas kebenaran teks (Al-Qur’an dan Hadis) sudah menjadi bahan rebutan sejak dulu. Sejarah mencatat, banyak kesalahpahaman di antara kaum muslim sejak masa Nabi hidup dan mulai membrutal setelah Nabi wafat. Politik perebutan kekuasaan bercampurbaur dengan dogma agama. Golongan-golongan yang merasa benar dan mengaku pewaris sah ajaran Nabi lahir satu per satu. Islam terpecah menjadi dua golongan besar: Sunni dan Syi’ah, golongan yang lain tidak sepopuler mereka, atau hanya pecahan kecil dari keduanya. Ya, dua golongan yang menjadi salah satu cikal bakal perseteruan tiada akhir di Timur Tengah saat ini, juga di Indonesia yang tak mau ikut ketinggalan.

Yaman menjadi saksi. Perang saudara berkecamuk di sana belakangan ini. Kelompok Syi’ah yang merasa tertindas berontak. Pemberontak yang dikenal dengan nama Syi’ah Houthi itu kini telah menduduki ibukota Sana’a, dan geraknya terus meluas hingga memaksa presiden Abd Rabbuh Mansur Hadi angkat kaki dari sana. Milisi Syi’ah Houthi juga telah menguasai kota Taiz, kota terbesar ketiga di Yaman setelah Aden dan Sana’a. Perebutan kota Taiz adalah reaksi  dari serangkaian protes yang ditujukan kepada Syi’ah Houthi dan pendukung Ali Abdullah Saleh, mantan presiden Yaman pro-Houthi yang digulingkan tahun 2012 lalu.

Tapi presiden Hadi yang beraliran Sunni itu punya banyak relasi. Bala bantuan telah disiapkan oleh negara-negara Sunni tetangga yang kelak bisa melanggengkan kekuasaannya. Jet tempur pun siap menggempur. Untuk sebuah operasi militer ke Yaman, Arab Saudi mengerahkan sejumlah 100 jet tempur, Kuwait dan Qatar masing-masing 15, serta 12 dari Bahrain. Belum lagi 150.000 tentara Arab yang disiagakan di perbatasan Yaman. Pakistan dan Turki juga siap membantu, bahkan Amerika Serikat telah menjanjikan dukungan logistik dan bantuan intelejen untuk sang presiden. Melihat angka dan berbagai aksesoris militer itu, kita bisa bayangkan, akan banyak darah di sana.

Indonesia juga tak luput menjadi korban sejarah. Kronologi pertikaian tiada akhir itu telah memecah konflik antara Sunni mayoritas dengan Syi’ah minoritas di beberapa kota. Seperti di Pandeglang (Jawa Barat) dan Temanggung (Jawa Tengah) pada tahun 2011 silam, juga pelabelan “sesat”, “murtad”, “kafir” dan sebagianya, oleh kelompok Islam tertentu yang terjadi di Yogyakarta akhir-akhir ini. Namun konflik yang parah dan terbesar terjadi di Jawa Timur, seperti di Jember,  Pasuruan, Malang dan juga Sampang. Bahkan konflik di Sampang berujung pada aksi kekerasan massa yang menyebabkan ratusan warga Syi’ah diungsikan ke Sidoarjo, dengan alasan untuk menjaga stabilitas dan kondusifitas masyarakat.

Yaman dan Indonesia hanyalah dua dari banyak contoh korban sejarah. Sekali lagi, semua bermula dari perseteruan politik pada masa setelah Nabi Muhammad wafat, yang kemudian merambat menjadi konflik agama. Kita ingat bagaimana kerasnya suhu politik pada masa kekhalifahan setelah Rasul, terutama perseteruan antara Sayyidina Ali dan Mu’awiyah.

Iran menuduh ada oknum yang bermain di belakang konflik sektarian yang terjadi di Yaman. Begitu pula di Indonesia. Beberapa pemikir muslim Nahdlatul Ulama (NU) juga punya tuduhan serupa, mengingat Jawa Timur (terutama Madura) merupakan basis NU (Sunni) terbesar dan belum ada dalam sejarah Indonesia konflik yang terjadi antara Sunni dan Syi’ah. Teori konspirasi pun banyak dimunculkan.

Begitulah politik. Banyak yang memandangnya kotor dan profan. Politik bagaikan kubangan lumpur yang siap mengotori siapa saja yang berada di dekatnya, apalagi bermain di dalamnya. Tapi mustahil juga menghilangkan politik. Sama halnya kita melarang air bercampur dengan tanah liat ketika hujan turun. Politik ada di mana-mana. Si lumpur bisa mengotori siapa dan apa saja.

Kita ingat bagaimana banyak seniman Indonesia di masa Orde Baru tidak setuju dengan Wiji Thukul. Mereka tidak sependapat jika seni dicampuradukkan dengan politik. Itu hanya dapat mengotori kesuciannya. Tapi Thukul juga dalam keadaan dilema. Ia adalah seniman sekaligus aktivis partai. Thukul membuat puisi-puisi lugas berbentuk perlawanan, tapi ia juga turun ke jalan untuk menyemangati buruh-buruh menuntut upah sesuai. Toh, kasus serupa tidak hanya terjadi pada Thukul. Banyak seniman yang merasa terpanggil hatinya untuk melawan rezim yang fasis. Pablo Neruda di Cile, Nikolai Vaptasarov di Bulgaria, Jose Rizal di Filipina, dan bahkan Fransisco Borja da Costa, penyair Timor Leste yang mati ditembak tentara Indonesia. Wiji Thukul hanyalah contoh bagaimana ‘lumpur’ menyiprat di kanvas pelukis (politik menodai seni), sebagaimana ‘lumpur’ tadi juga telah menyiprat pada jubah ulama (politik menodai agama). Dan konflik Sunni-Syi’ah, merupakan salah satu judul dari banyak konflik politis yang terjadi atas nama agama.

Linda Christanty, dalam tulisannya “Adakah Pelangi dalam Islam?” yang kemudian diterbitkan bersama tulisan-tulisannya yang lain dalam buku Dari Jawa Menuju Atjeh: Kumpulan Tulisan tentang Politik, Islam, dan Gay, pernah menyinggung perihal konflik ideologi Islam di Indonesia. Tulisan itu sebenarnya bukan tulisan ilmiah yang bisa kita perdebatkan lewat forum-forum akademis. Tulisan Linda berbentuk liputan bergaya feature, atau kita lebih mengenal perkembangan gaya tersebut dengan nama Jurnalisme Sastrawi. Bentuk liputan menyerupai gaya cerpen yang menghanyutkan pembaca, namun didasari pada hasil wawancara itu, telah menjadi angin segar bagi dunia jurnalistik di Indonesia sejak tahun 2001 lalu. Di Indonesia, majalah Pantau merupakan media pertama yang memprakasai aliran jurnalistik ini. Sedangkan di Amerika, kita bisa membacanya di majalah The New Yorker yang terkenal itu, meski di dalamnya juga memuat bannyak konten tulisan yang lain.

Dalam tulisannya, Linda memotret bagaimana pergolakan ideologi Islam yang ada di Indonesia. Ada dua kelompok yang kemudian muncul dari perbedaan pemahaman mereka terhadap teks, yaitu kelompok Islam Liberal dan Islam Literal (fundamental). Linda menarasikan tulisannya ini melalui kedua perspektif kelompok tersebut. Kelompok Islam liberal digawangi oleh orang-orang seperti Ulil Abshar Abdalla, Goenawan Mohamad, Luthfi Assyaukanie, Ihsan Ali Fawzi, Nong Darol Mahmada,  Ahmad Sahal, dan Hamid Basyaib. Kelompok yang kemudian menamakan diri sebagai Jaringan Islam Liberal (JIL) itu berdiri atas respon terhadap gerakan Islam radikal yang militan, teroganisir dan sistematis.

JIL di Indonesia menyebarkan pandangan mereka kebanyakan melalui artikel-artikel yang dimuat di koran. Dan hingga suatu hari artikel Ulil berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” yang dimuat di Kompas tanggal 18 November 2002, memunculkan banyak reksi keras. Pasalnya, dalam artikel itu Ulil mengkritik praktik agama yang bersifat literal dan dogmatis. Menurutnya, penerapan syariat Islam sebagai solusi semua masalah merupakan sebentuk kemalasan berpikir, atau lebih parah lagi, merupakan cara untuk lari dari masalah.

Reaksi paling keras muncul dari sekelompok agamawan yang menamakan diri Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI). FUUI mengeluarkan fatwa menuntut kematian Ulil. Namun setelah Linda konfirmasi pada ketua FUUI, Athian Ali Muhamad Dai, ia menyangkal bahwa organisasinya mengeluarkan fatwa demikian. Athian dan pihaknya hanya melaporkan Ulil kepada polisi karena tulisan Ulil tergolong perbuatan keji melawan agama, serta telah meresahkan banyak umat Islam di Indonesia. Athian menganggapp pikiran Ulil berbahaya, karena menempatkan pemikiran manusia di atas Tuhan. Kelompok fundamentalis lain seperti Majelis Mujahidin Indonesia, yang pemimpin tertingginya adalah Abu Bakar Ba’asyir, juga mendukung langkah FUUI untuk meminta polisi memeriksa Ulil.

Saya sendiri baru bersinggungan langsung dengan pergolakan Islam di Indonesia semenjak menjadi mahasiswa. Sebelumnya, saya pikir Islam yang wajib diikuti hanya satu, yaitu Islam yang diajarkan orang tua dan lingkungan di mana saya tinggal. Kuliah di kampus Islam yang dicap liberal oleh sebagian orang, membuat saya berpikir lebih terbuka.

Jika bisa saya petakan, selain Islam liberal dan fundamental ada juga Islam moderat. Moderat lebih cenderung kepada kelompok Islam tradisionalis seperti NU dan Muhammadiyah. Tapi saya kira ketiga garis besar tadi tidak bisa dibedakan secara gamblang. Ada ranah-ranah tertentu yang memilki kesamaan atau perangkapan di antara mereka. Ulil adalah seorang moderat, mengingat ia lahir dari kultur pesantren yang akrab dengan kitab-kitab klasik, penerapan syariat yang kuat dan tidak antipati terhadap kemajuan zaman. Bisa dibilang, bahwa kaum moderat berlandaskan pada kaidah Islam klasik: al-muhafazhatu ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu ‘ala al-jadid al-ashlah, atau “mengambil yang lama yang baik, dan yang baru yang lebih baik.” Tapi Ulil juga seorang liberal, ketika ia mulai menyaring budaya Arab yang bercampur dalam penerapan teks, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum fundamentalis: memaknai teks secara literal dan menolak budaya lokal serta kemodernnan.

Saya yang menempatkan diri pada posisi moderat, tidak menyalahkan pemikiran liberal, juga tidak menyayangkan apa yang dilakukan kaum fundamental. Berpikir terbuka ala pemikir liberal bukan sebuah kesalahan. Lagi pula ijtihad yang dilakukan para ulama adalah contoh bagaimana seharusnya kita berpikir terbuka. Praktik fundamental seperti becadar, tidak mengizinkan perempuan bepergian tanpa mahramnya, atau hanya sekadar berbicara dengan bahasa kearab-araban, juga bukan menjadi masalah bagi sekitarnya. Masalah adalah jika salah satu dari mereka memaksakan kehendak atas klaim kebenaran memaknai teks (Al-Qur’an dan Hadis) kepada orang lain, dengan cara-cara seperti menghujat, mengkafirkan, melukai orang lain atau bahkan lebih ekstrim: terorisme.

Ayolah, terorisme atas nama agama adalah tindakan paling kekanak-kanakan yang pernah saya lihat. Terorisme atas nama agama sama halnya memberi dua pilihan sulit kepada orang lain: masuk surgaku atau kubunuh? Bagaimana bisa kepercayaan dan cara berpikir seseorang dapat  dipaksa begitu saja. Itu semua adalah kebebasan.

Lihat saja apa dampak yang muncul setelah peristiwa Black September di Amerika pada tanggal 11 September 2001 lalu. Ketakutan warga non-muslim terhadap Islam (Islamophobia) yang kemudian malah memunculkan diskriminasi, ketidakadilan dan pengucilan orang-orang Islam yang tidak bersalah di banyak negara di Barat. Kita bisa lihat bagaimana ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) memaksa orang-orang Syiria dan Irak untuk mengungsi dan merampas hak-hak mereka untuk hidup layak, menghalalkan perbudakan seks, pembunuhan kepada para wartawan, belum lagi banyak tentara yang harus mati demi merebut kembali kebebasan beragama dan bernegara. Kita bisa lihat bagaimana organisasi teroris Boko Haram yang anti Barat itu ingin mendirikan negara Islam dengan menghalalkan berbagai cara juga. Puluhan remaja perempuan di Nigeria dan wilayah Afrika Barat diculik, teror terus dilancarkan, lebih dari 13.000 orang tewas dan 1,5 juta orang kehilangan tempat tinggal sejak 2009 lalu.

Lihat saja, hanya karena memaksakan klaim atas kebenaran teks kepada orang lain, yang berujung pada kehidupan setelah kematian yang mereka imani, darah harus berceceran di mana-mana, kepala-kepala harus dipenggal, perempuan dan anak-anak banyak menderita, dan lain sebagainya. Demi surga, mereka mengkafirkan keluarga sendiri. Demi surga, mereka meledakkan diri. Hanya demi surga, Amnesty International harus mencatat bahwa tahun 2014 merupakan tahun tragedi kemanusiaan terburuk sejak meletusnya Perang Dunia II.

Demi Surga, kita bertanya, adakah surga menginginkan kebenaran yang dipaksakan? Adakah jalan ke surga harus mendayung perahu di atas sungai darah? Adakah surga dibangun oleh tangis dan rasa sakit hati yang mendalam?

Untuk hal ini, saya yakin jawaban kita sama.


Yogyakarta, 29/3/2015 

3 komentar

  1. sepurane geh mas, , urung tak woco. kapan2 nek wes moco tak laporan maneh hehehe, , ,

    BalasHapus
  2. Sebenarnya ada satu jalan untuk meredam arus fundamentalis Islam itu mas, tasawuf. Masalahnya, belakangan praktik-praktik tasawuf juga dianggap sebagai bid'ah. Tidak diajarkan pada masa Nabi. Beberapa intelektual Muslim yang [mungkin] liberal, juga menganggap bahwa tasawuf adalah praktik yang tidak rasional. Kan susah . . . .

    BalasHapus
  3. nah itu, itu..
    sulit mendamaikan berbagai pikiran di milyaran kepala manusia, yang pada akhirnya hanya membuat kita "mengobati", karena "mencegah" pun juga sudah sulit.

    BalasHapus

My Instagram