Lagu Cinta Lagi



Suatu hari, di depan koran pagi yang masih hangat, saya terlibat perbincangan kecil dengan seorang teman. “Lihat saja film tentang Nietzsche itu,” katanya, “Saya tidak terlalu dapat menemukan di mana substansi pemikirannya. Terlalu banyak mengekspos kisah cintanya di sana.” Saya pun mencoba mengimbangi argumennya, “Film tentang Shakespeare juga, terlalu banyak melebih-lebihkan percintaan.” kata saya. Perbincangan terus berlanjut, dia menyinggung juga film The Theory of Everything yang memiliki kasus serupa. Saya yang belum lama menonton film tentang fisikawan Stephen Hawking itu pun setuju-setuju saja, karena memang begitulah adanya. Lalu perbicangan pun selesai, dan kami sepakat bahwa percintaan adalah bagian dari permintaan pasar.

Entah orang-orang zaman sekarang saja yang malas berpikir kritis, atau mereka mulai menjadi pragmatis, sehingga kasus percintaan begitu populer di kalangan kita. Atau cinta, sudah terlampau dekat dengan kehidupan manusia, sehingga selalu menjadi sasaran yang menarik untuk dikisahkan. Atau sebenarnya semua sudah sejalan dengan sewajarnya, dan hanya saya sendiri saja yang masih memandang sebelah mata?

Tapi tidak. Cinta tetaplah permintaan pasar. Banyak hal sudah saya amati, mulai dari dunia buku hingga dunia musik, semua yang banyak laku selalu saja ada cintanya. Bisa dibilang ini adalah pertimbangan generalisasi saya terkait mayoritas dan minoritas permintaan pasar. Mayoritas novel yang saya temui selalu ada kisah cintanya. Mayoritas band yang saya tahu selalu melagukan tembang-tembang cinta. Tanpa cinta, seakan langit tak lagi biru, hutan tak lagi hijau, dan hujan tak lagi melambangkan keromantisan. Tanpa cinta, manusia bagaikan memakan nasi goreng yang tidak digoreng: ada sebuah keanehan di sana.

Saya bukan anti cinta. Bukan juga seorang peserta yang gagal di seminar motivasi cinta, yang kemudian merasa frustasi dan menulis tulisan kecil yang terlihat sebagai oposisi percintaan ini. Bukan. Saya hanya berpikir bahwa tidakkah kita bisa menerima hal-hal lain (meski tidak terlalu menarik) selain cinta. Atau tidakkah kita bosan selalu menempatkan perihal percintaan di peringkat atas hidup kita. Ya, tidakkah kita bosan membaca novel-novel cinta yang alurnya bisa ditebak, bosan mendengarkan lagu-lagu mendayu sedih, bosan melihat film-film dengan adegan berpelukan di akhir cerita, atau bosan-bosan yang lain.

Saya tertarik dengan hal-hal kurang menarik yang saya bicarakan tadi. Industri musik Indonesia sudah banyak mencontohkan kepada saya. Tentunya melalui lagu-lagu anti-mainstream yang dibawakan oleh beberapa pemusik tertentu. Ada lagu-lagu cinta memang, tapi tidak melulu tentang cinta. Kebanyakan dari mereka menyoroti kehidupan sosial, perhatian terhadap budaya, kepedulian pada alam, atau bahkan menyinggung masalah politik, lalu mengkritik kekuasaan dan segala dampak dari tentakelnya.

Di akhiran dasawarsa pra 2000-an, barangkali kita sudah mengenal solois Ebiet G. Ade dan Iwan Fals. Bang Ebiet, dengan lirik santun dan hiperbolisnya, banyak memotret masalah-masalah sosial dan keluarga, alam dan bencana, hingga nuansa religi yang seakan hidup jika kita mendengarkan lagunya. Bang Iwan, dengan gaya selengean di masa muda dan karismatik di saat ini, selalu giat melontarkan kritik-kritik tajam pada para penguasa. Potret sosial dalam lagunya pun tak ketinggalan. Lirik-lirik yang ia suarakan bagaikan teriakan-teriakan yang terwakili dari masyarakat akar rumput negeri ini. Mereka adalah bukti, bahwa terdapat hal-hal yang perlu (minimal) kita lirik dan perhatikan, agar tak menjadi insan apatis.

Marjinal, band beraliran punk, yang seringkali dipandang sebelah mata karena suara keras musiknya, juga banyak mengangkat isu non-cinta pada lagu-lagunya. “Aku Mau Sekolah Gratis” adalah salah satunya. Di balik musik yang banyak gebrakan drum dan suara serak vokalisnya, ada kepedulian pada pendidikan di Indonesia. Anak-anak miskin desa maupun kota, harus rela bodoh karena menjadi korban pendidikan berbayar. Marjinal mengatakan, lalu apa bedanya dengan zaman penjajahan dulu, jika rakyat jelata tak bisa sekolah dan yang bisa hanya kelompok yang berduit saja, yaitu kelompok yang berlindung di bawah sarung para penguasa. Marjinal pun menyuarakan hak-hak untuk memperoleh pendidikan setara bagi semua.

Lagipula, cinta tak hanya harus dibawakan dalam ranah pasangan Adam dan Hawa saja. Di lagu yang lain, “Luka Kita Aceh”, Marjinal membungkus cinta dalam wadah solidaritas. Sebenarnya, mengangkat isu-isu tak populer membutuhkan keberanian dalam industri musik kita, karena itu berada di luar pasar, dan popularitas menjadi taruhannya. Tapi tidak bagi Marjinal, nurani mereka yang berbicara di sini. Bencana tsunami di Aceh membutuhkan ajakan-ajakan yang meneriakkan empati untuk sesama, untuk menggugah hati-hati manusia yang sedang mabuk cinta pada pasangan. Bahwa saudara kita di Aceh yang sedang terluka, adalah luka kita juga.

Begitu pula Slank. Band beraliran rock-blues yang biasa saya sebut “legenda hidup” sebab popularitas dan umurnya yang sudah tua ini, merupakan band yang lagu-lagunya lebih varian. Meski jumlah lagu cintanya lebih banyak dibanding Marjinal, Slank tak kalah kritis dari band-band anti-mainstream lain. Jika Marjinal membicarakan solidaritas dalam bencana yang melanda Aceh, maka Slank dalam lagunya “Atjeh (Investigation)”, berbicara tentang masalah ganja, ideologi, hingga perseteruan TNI dan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di sana.

Tidak hanya itu. Album “Mata Hati Reformasi” yang mereka rilis di pertengahan bulan tragedi: Mei 1998, juga seakan bebas menggosipkan bagaimana tindakan para penguasa kala itu. Dalam lagunya “Missing Person (Trend Orang Ilang)”, Slank bertanya-tanya: adakah mereka sembunyi atau disembunyikan, hingga tak pernah ada kejelasan dari mereka. Serta lagu-lagu dengan latar belakang masyarakat lainnya: kasus lumpur Lapindo di lagu “L.A.P.I.N.D.O”, kepercayaan mistis masyarakat di lagu “Verboden”, hingga kepedulian pada suku di Lembah Baliem (Papua) yang memiliki sistem keuangan mereka sendiri, yang dilagukannya dengan judul “Lembah Baliem”. Sekali lagi, Slank membungkus cinta menjadi kepedulian pada kehidupan masyarakat.

Di sisi yang berseberangan, tak hanya musik rock saja yang bisa bersikap kritis di luar fenomena percintaan. Efek Rumah Kaca, sebuah band beraliran post-rock yang lebih “santai” (bahkan “kalem”) dibanding dua band tadi, bisa pula menciptakan lirik-lirik sarat makna. Selain menyinggung persoalan sosial, alam, esensi kehidupan, hingga cinta yang absurd; dari band ini pula saya sadar, bahwa Industri musik kita memang sedang dijajah oleh pasar percintaan. Lewat lagunya, “Cinta Melulu”, Efek Rumah Kaca membeberkan banyaknya lagu perselingkuhan, elegi patah hati, dan ode pengusir rindu, yang semuanya mengatasnamakan pasar.

Kritik sosial pun juga muncul di lagu-lagu berlirik puitisnya yang lain: “Kenakalan Remaja di Era Informatika”, yang menggambarkan bagaimana bebasnya para remaja dalam berpenampilan, hingga seakan nafsu telah mengalahkan etika. “Jangan Bakar Buku”, yang menggambarkan betapa berartinya sebuah buku, ketika terjadi kejahatan pembakaran padanya. Lalu “Banyak Asap di Sana”, yang menggambarkan bagaimana urbanisasi telah gagal menerima orang-orang yang datang ke kota, lalu mereka tersisih dan terbuang di pinggirannya.

Saya kira sudah terlalu banyak contoh yang membuktikan adanya hal lain yang bisa kita dengarkan, selain persoalan cinta. Meski tak se-ekstrem Marjinal, tapi saya setuju apa yang pernah dikatakan dalam lagunya, “Cinta Pembodohan”.

“Hei kau-kau kawan, kan masih banyak cerita. Dunia tak selebar daun kelor.”


Yogyakarta, 12/4/2015

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram