Melampaui Strata




Saya cemas dengan kita yang biasa-biasa saja, mudah puas dengan hasil tak seberapa, langsung tinggi tatkala dipuji, atau bahkan tidak tahu di mana ‘posisi’ dirinya sendiri. Saya cemas jika itu adalah saya. Saya juga cemas jika itu ternyata mayoritas para pemuda. Coba amati orang-orang ‘besar’ yang banyak berjasa itu, berprestasi, atau sekadar produktif. Di usia dua puluhan (bahkan kurang), mereka sudah mampu melampaui strata diri mereka sendiri.

Akhir-akhir ini, saya agaknya kesulitan membaca Tahafut al-Falasifah karya Imam al-Ghazali. Itu adalah buku penentang filsafat yang isinya tak kalah berfilsafat. Jika kita membaca buku-buku ringan semacam biografi, novel, atau bahkan puisi, saya analogikan kita bisa membacanya sambil belari. Tapi tidak dengan buku ini. Tahafut al-Falasifah memaksa saya untuk tidak hanya membaca sambil berjalan, tidak juga sambil jongkok, melainkan sambil tiarap. Saya harus membacanya pelan-pelan, memahami kalimat demi kalimat, dan tak jarang harus mengulanginya karena ketidakpahaman saya.

Itulah yang saya maksud dengan strata. Dan contoh ini hanyalah sebagian kecilnya. Saya adalah mahasiswa, berpendidikan, dan telah banyak membaca buku. Saya merasa malu dengan posisi saya sendiri, malu dengan umur (dua puluhan) saya, juga malu dengan mereka yang telah berhasil melampaui stratanya. Saya malu pada Gus Dur. Beliau telah selesai membaca Das Kapital karya Karl Marx ketika duduk di bangku SMP. Saya yang disuguhi buku itu sekarang pun, barangkali belum tentu paham. Untuk hal ini, saya rasa kita harus selalu melihat ke ‘atas’ untuk mengetahui di mana posisi kita sebenarnya. Posisi yang kita harapkan bisa menenggelamkan kita pada perasaan bodoh, lalu memacu kita untuk berkembang.

Satu lagi hal yang membuat saya gelisah, selain tentang persoalan melampaui strata. Yaitu prestasi yang bisa mengantarkan belajar ke luar negeri. Setiap kali membaca koran dan melihat siswa-mahasiswa Indonesia yang bisa go international, entah belajar atau memenangkan lomba, saya merasa seperti sedang dipecundangi. “Lihat mahasiswa yang sedang berdiri diam dan membaca ini, apa yang sudah ia hasilkan selama ini? Ke mana saja ia pergi? Hingga ia hanya menjadi penonton atas keberhasilan orang lain.” Kata diri saya pada diri saya yang lain. Semangat saya yang meluap tentang itu, hanya bisa pupus ketika tak ada aksi nyata yang saya lakukan di kemudian hari. Semangat yang hanya menjadi ‘omong kosong’ lalu hilang tertiup angin.

Jika ada yang bertanya, kenapa tidak ada aksi nyata jika semua orang pada dasarnya bisa? Barangkali saya akan mengutipkan apa yang pernah disampaikan oleh salah seorang dosen saya, “Musuh utama mahasiswa saat ini bukanlah Amerika atau Eropa, tapi rasa malas.” Tapi untunglah saya tahu bagaimana menyiasati kebodohan ini. Yaitu seperti sebelumnya saya katakan, kita harus melihat ke ‘atas’ untuk tahu di mana posisi kita. Dari situlah saya ciptakan lagi ke-omongkosong-an tadi, sambil berusaha bagaimana menghilangkan (minimal mengontrol) rasa malas. Dari situ pula semangat saya bisa terus terjaga dan akan saya wujudkan suatu saat nanti. Itulah yang saya namakan sebagai ‘mimpi’.

Tapi mimpi tidaklah selesai sampai di sini. Saya tak yakin pendidikan luar negeri mampu membuat mahasiswanya selalu maju, karena semua tergantung pada individu-individu. Media hanya memberitakan orang-orang yang sukses di luar sana, bukan sebaliknya. Percuma mimpi kita sampai, jika kita tumbuhkan lagi rasa malas di sana. Saya kadang berpikir, lebih baik ‘hebat’ di negeri sendiri, atau hanya menjadi ‘sampah buangan’ dari luar negeri?

Sekali lagi, saya cemas jika itu adalah kita. Saya sarankan, mulailah untuk melampaui strata.


Yogyakarta, 21/4/2015

4 komentar

  1. al istiqomatu khoirum min alfi karomatin
    bahwa ke-istiqomahan itu lebih baik daripada seribu kemulyaan (keramat/karomah)
    . percayalah kawan, jika kamu dapat menjalaninya secara konsisten, akan kamu raih apapun itu yang kamu inginkan. Jangan lupa kita punya Tuhan yang maha segalanya. Tetapi jangan lupa pula bahwa kita sudah diberi segala sesuatu untuk mengembangkan diri kita oleh Tuhan itu.

    BalasHapus
  2. aamiin. siap laksanakan masukannya.

    BalasHapus
  3. strata atau starta ?
    Saya temukan di paragraf ketiga kalimat pertama yang sempat membuat saya bingung. remeh memang tapi sedikit disesalkan jika tulisan bagus jd sedikit ambigu gara-gara " typo "pas di kata kunci pula. apa saya yang kurang ilmu sehingga menganggap bahwa strata dan starta itu berbeda makna :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Strata. Maaf, typo adalah bagian dari ketidaktelitian dan kekhilafan penulis.. hehe

      Makasih sudah dikoreksi.

      Hapus

My Instagram