Sungguh, Kitalah Pendosa Itu



Tuhan tak membiarkanku mati
dulu atau saat ini

mukjizat bagian dari seluruh kuasa-Nya
aku hanya hamba yang tak berdaya
hidup memelas malang
kesempatan enggan berulang

dan aku, adalah bagian dari kita
manusia-manusia yang penuh dosa
hanya,
hati kita saja yang jarang merasa

kutadahkan tangan saat miskin
lantas lupa selama mungkin
kumeratap saat datang sakit
lantas lupa lalu berkelit

Tuhan Maha Baik
satu-satunya Dzat yang memberi
saat tangan menengadah
satu-satunya Dzat yang membelai
saat keluar tangis meratap

kita lupakan keberadaan-Nya
ketika nikmat datang tiada habisya
kita ragukan eksistensi-Nya
ketika alam raya membuktikan kuasa

barangkali,
pandangan kita terhalau dunia
yang tak pernah menjadi sepi
barangkali,
hati kita tertimbun dunia
yang kita sebut sebagai materi

sungguh, kitalah pendosa itu
terhadap Tuhan, kita tak pernah mesra
pada manusia, kita jadikan saudara menderita

sungguh, kitalah pendosa itu
sering tersesat di alam pikir
biasa munafik di ujung bibir
sombong saat berdiri gagah
semena-mena tak mau dicegah

sungguh, kitalah pendosa itu
berdoa di kala butuh
berdosa di kala utuh
begitu terus hingga di ujung
hingga malaikat menjadi geram,
lalu datang dengan alat pancung

kita bergidik saat teringat
lantas memohon: mengharap taubat
karena, kitalah pendosa itu
yang hanya diam enggan mengaku


2015

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram