Monolog




Kebenaran tak hanya tampil pada sebuah pentas:
Teater, puisi dan dalam artian sempit: (Seni) Monolog
Lantas meluas, meluber dari wadah seni:
Sebagai jelmaan ego dan pengalaman empirik
Dengan dungu, mereka tolak mentah-mentah:
Dialog.

Kebenaran tlah dikuasai oleh pribadi;
Kekeh! Enggan didikte, menolak dibisiki
Hanya ada satu suara yang
menggema bagai sabda raja
Meski sabda kini, di zaman edan ini
bukan barang suci lagi. Mudah tuk dihakimi!

Tapi para monologis tetap ngeyel
Jika mereka penguasa, maka
akan berdiri negeri tirani nan keji
Jika mereka rakyat biasa, maka
akan pecah segala jenis pemberontakan
Jika mereka penguasa dan rakyat biasa, maka
darah akan menjadi saksi, setiap hari.
Atau katakanlah, pada tiang pancung yang tak pernah sepi

Barangkali itu cuma cerita lalu
Sekarang, telah ramai produk-produk baru
Demokrasi, HAM dan kebebasan
Forum diskusi, debat dan seminar
yang terlihat luks tapi bisa ditawar

Agar kebenaran tak diraih dengan cara kotor
Kita berpendapat, kadang juga menerima
kenyataan yang membuat hati dongkol

Dan ke-monolog-an belum tentu mati
Dia hanya terpendam, dan sementara terganti
Terkubur di palung hati
kita.


2015

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram