Soal Kemaskulinan



Apa dengan segelas kopi hitam,
kemaskulinan tersirat di mataku yang tajam?
Ah, di meja bundar,
tempat kongkow cewek-cewek metropolitan
kepulan asap dan kopi hitam, sudah biasa!

Atau tunggu kutumbuhkan bulu-bulu, di wajahku
Biar kemaskulinan terpancar dari parasku?
Tapi jangan kau jawab “iya”!
Aku malu pada monyet-monyet itu
Mereka bedebah yang lebih maskulin dari aku

Atau simbol maskulin terselip di ranjang-ranjang?
Bukti yang tampak setelah kita telanjang
Lantas apa yang dicibirkan mereka,
Jika aku memutuskan untuk terus melajang

Ah, simbol itu bisa jadi apa saja
Lengan kekar, otak cerdas, atau suara cadas
Mungkin juga, pria-pria berkumis panjang

Maskulin, barangkali sebuah pemaknaan
dari wanita-wanita yang tak sadar perbedaan
Para penafsir itu, tak kan selalu sama
Memberi makna atas pengalaman
Asal hati terasa nyaman

Kita pria,
tak akan mampu tuk melawan,
kecuali hanya bisa menawan
Menawarkan diri,
jadi seselera pasar mungkin

Kita bertanya,
tanpa daya tuk memaksa
Apa maskulin harus selalu ada?


2015

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram