Dirgahayu Ibu!

sumber: followpics.co


Yogyakarta, 17/8/2014

Terima kasih Indonesia. Kau negeri yang membesarkan kami dengan hasil bumimu, kau negeri yang membiarkan kami tetap hidup dengan meminum airmu, kau negeri yang memberi kami pijakan dengan tanahmu.

Tak banyak yang bisa kami lakukan untukmu, bahkan banyak yang kami rugikan darimu. Sebagian dari kami mungkin hanya memiliki cinta, tapi sebagian lagi malah membuatmu menderita. Cinta menuntun kami untuk melakukan banyak hal untukmu, walau terkadang masih dalam anganan belaka. Kini, orang-orang banyak yang menyindir bahwa kau sedang menangis karena luka.

Tapi Indonesia, kau Ibu yang kuat, dan kami selalu bangga dengan itu, dengan apapun kondisi yang kau alami kini dan juga nanti. Bahkan jika kau lebih miskin dari Zimbabwe, masyarakatmu lebih berjubel dari China, atau mungkin udaramu lebih panas dari Libya, dan lebih dingin dari Rusia, kami tetap bangga. Karena kami cinta.

Tapi Ibu, maafkanlah juga anak-anakmu lainnya yang tak hentinya nakal, suka berdusta, jijik denganmu dan bangga dengan Ibu anak-anak lain. Kami akui kami masih krisis kejujuran. Dalam sejarah dunia pendidikan, mencontek sudah menjadi sebuah kewajaran yang turun temurun, karena wajar itulah segala larangan jadi tidak wajar. Apa-apa jadi kami langgar. Dan di situlah kami secara formal mulai belajar. Lebih luas lagi, kami kelak korupsi, menghalalkan pungli, dan suka “mencuri.” Hutanmu kami eksploitasi, tambang-tambang kami jual, satwa langka kami perdagangkan. Kini lihatlah bu, kau pasti tak mampu membedakan anakmu yang kini semua berperut gendut. Gendut karena tak pernah lapar dan gendut akibat busung lapar.

Tapi Ibu, berhentilah menangis, karena cinta ini akan terus mendoakanmu dan tak putusnya berjuang untukmu. Para pahlawan telah mengajari kami. Mereka yang berprestasi telah memotivasi kami. Mereka yang jujur adalah teladan kami. Tunggu saja saatnya, ketika kau tersenyum melihat kami, dan saat itu juga tak ada lagi anak-anakmu yang nakal, karena mereka telah diganjar Tuhan.

Dirgahayu Ibu!

Komentar

  1. josss. . ..
    saya selalu suka dengan kalimat penutup anda
    keep happy writing

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku: Antara Isi dan Harga Diri