Postingan

Segulung Ombak Terakhir di Muka Bumi

Gambar
Sebab mata kakimu buta dan lupa
atau tertutup ribuan pasir putih
bercampur kerang berukuran mikro
lantas hilang diterjang perih air laut

Di sana, kau lakukan hal paling menyenangkan
yang tak bisa dilakukan siapapun di tengah kota:
melamunkan abstraksi dunia;
tanpa batas

Alam hampir menjadikanmu seorang
nihilis baru, tapi sebenarnya
ia hanya main-main saja

Di pantai kau tak bisa lari darinya
pikiranmu terjepit di antara tebing
mata dan otakmu di luar kendali jiwa

Pada sebuah detik yang cepat
kau sadari bahwa bentangan di depanmu
hanyalah berisi pengulangan yang berbeda

Ombak yang membersihkan pasir di kakimu
kini sudah hilang tak tercari
lamunanmu lalu berhenti
setelah ombak itu tiada lagi
kau kegirangan; pulang ke kota
membawa ombak terakhir yang sudah kau miliki


2017

Alter Ego

Gambar
Pernah kutanya suatu hari, "imankah kau pada intuisi?" Kau beri jawaban lengkap: soal keintuisian hidupmu yang seringkali kau tangkap
Tanpa kutanya suatu hari, sedang kudengar kau asik bercerita diri. Kau banyak baca buku pulang malam, lepas diskusi lalu merasa jadi kontradiktif: seorang bodoh yang terus dan terus merasa bodoh
Kau sambung itu suatu hari, saat kau dengar orang bicara tentang persoalan dan masalah, tentang hal-hal yang mungkin kau tahu tapi kau diam sambil senyum kecilmu: senyum meremehkan
Kau yang bercerita padaku sambil tertawa, kubalas dengan tawa sedikit lebih lantang. Andai kau tahu jika aku melakukan hal sama, hanya berbeda dalam beberapa persinggungan
Tuhan telah mengutuk kita dengan selera humor tinggi hingga kita suka tertawa dan begitu sukar berhenti. Kau yang ada di belakangku kala itu, kala kita duduk membatu menertawakan hidup yang kaku
Pernah kutanya pada diri sendiri, apalah ini semua namanya? apakah ini semua artinya?
Oh, semestalah yang membe…

Thantofobis

Gambar
Saat bukit menunduk dan tua, ia akan bercerita pada lereng sondai tentang hujan dan petir, tentang mineral yang dicuri dari perutnya, tentang mitos makhluk pesisir penadah garam berwarna haram.
Saat teluk menikmati sore di bangku alam, melihat matahari tenggelam, menyapa tanjung di seberang jalan; memberi makna pada ikan dan nelayan.
Saat pagi, kabut memberi energi tak terbatas pada segelas kopi berseduhkan rasa beruas-ruas. Satu dua kawan kelelawar pemakan agas terlambat pulang, saling berlomba cepat sampai goa. Mereka masih kanak-kanak. Sama, sama halnya dengan kita yang menolak digantung tali dewasa.
Tak perlu menjadi kakek dua cucu tuk menceritakan semua kekonyolan yang tak sepantasnya lucu. Aku hanya perlu kawan dekat tuk berdebat, dan lawan yang bisa diajak tertawa bersama setelahnya, di atas langit-langit: di atas mimpi berdinding sederhana. Kilau rubi dan jamrud toh bisa kita buat hanya dengan bahagia dan sedikit waktu luang.
Jika suatu saat pagi tak muncul lagi, bersenang-senanglah di dala…

Daraka

Gambar
Kutemukan paradoks begitu gesit dalam jasad berlari liar laiknya kucing hutan terjerat akar jalar segala kemapanan klasik ditabrakinya sampai lerak. Aku memeliharanya: mencintainya seperti seorang kekasih, juga kesalahan-kesalahan yang lekas kumaafkan tanpa desih.

Mata dewa pun tak cukup perkasa melihatnya langsung
apalagi mataku yang kan tersaji di meja makan para belatung Dia hanya muncul dalam cermin benggala bertatahkan perak membiaskan wujudku dengan keindahan kekal tak terjamah. Mencintainya adalah kesalahan terindah yang tetap kusimpan menyimpannya menjadi bukti mati pada cinta dan harapan

Kau yang bersemayam, luruhlah jika waktu penghabisan tiba
lambai aku, tapi jangan sekalipun kau katakan moksa dari dunia keringatku pernah mengering di kulitmu, berkerak jadi sejarah juang. Biar wujudku bahagia mencintai bayangan yang kau tinggal dan kau mengagumiku di sana, di neraka tawar dambaan rasa gagal.

Yogyakarta, 12/4/2016

Di Celah Pengkhotbah

Gambar
Yogyakarta, 9/4/2016

Bait-bait keinginan telah kuaduk bersama namamu
kupersiapkan naskah doa dari rumah
kuantar dengan sopan pada Tuhan yang sedang di rumah

Waktu selalu terbagi oleh kepentingan-kepentingan
untunglah sempat kucuri secuil
dari celah pengkhotbah yang sedang rehat

Lalu aku berpacu
antara waktu dan selesai kubacakan namamu
sesekali dengan was-was:
jikalau pengkotbah bangkit dan awas

Maaf jika
kau rasakan hal berbeda
mungkin saja doaku telah diterima

Dan tenanglah,
itu tak lebih hanyalah teks kebaikan
dengan banyak kutulis kata semoga di dalamnya

Juga tak perlu kau curiga
kupastikan, tiada setan yang masuk ke rumah Tuhan

Memilih Menjadi Amatir

Gambar
Yogyakarta, 8/3/2016
Agaknya saya benci pengkotak-kotakan. Dalam hal ini, definisi “kotak” bisa sangat luas. Tapi supaya lebih mudah, anggap saja apa yang saya sebut “kotak” adalah pikiran formalisitik yang masih mengakar di masyarakat kita. Bisa pandangan sempit pada santri yang dikira hanya (dan harus) bisa mengaji, atau sumpah serapah pada lelaki gondrong yang sering kali dianggap korak, serta contoh-contoh apalah lainnya.
Jika penyimpulan dangkal semacam ini benar adanya, maka buah durian tak akan semahal dan semewah sekarang. Sebab jika manusia selalu melihat sesuatu secara visual dan mainstream, maka mereka akan mengira bahwa isi durian tak layak makan, bahkan beracun, sebagaimana bentuk kulitnya yang terlihat "mengancam".
Saya kira perlu untuk membebaskan pikiran kita dari pendangkalan semacam ini. Ya, merdeka sejak dalam pikiran adalah kebutuhan. Karena cepat atau lambat, kita akan tahu bahwa berbagai kesimpulan yang ada dalam tempurung kepala kita, bisa sangat berbeda …

DD

Gambar
Yogyakarta, 9/2/2016

Suatu siang di pertengahan 1897, seorang kuli perkebunan berjalan menghampiri mantan pengawas perkebunannya. Si kuli yang asli pribumi sudah terlihat uzur dan tampak lusuh, sementara atasannya yang baru saja memutuskan resign adalah seorang Indo berumur 18 tahun. “Terpujilah ibu yang melahirkan Anda,” kata si kuli, takzim. Pemuda di hadapannya itu langsung memasang ekspresi linglung. Dia sama sekali tak mengenalnya, apalagi dekat dengan buruh tua tersebut. Belum selesai dibuat bingung, si pak tua kembali menumpahkan ­uneg-uneg-nya, “Anda tuan muda, telah memperlakukan kami layaknya manusia.”
Percakapan di atas menjadi rekaman sejarah tersendiri bagi Kota Malang, tepatnya di perkebunan kopi Soember Doeren, di kaki Gunung Semeru. Kebun kopi itu kini telah tiada. Tenggelam sudah kisah kejayaan perkebunan milik Handelsvereniging Amsterdam itu, seiring dengan tenggelamnya kisah eksploitasi para buruh yang pernah mengabdi di sana. Gambaran sejarah kelam kemanusiaan terseb…