Sinar dari Amerika Selatan

sumber: www.creativesouthamericanetwork.com


Yogyakarta, 3/4/2015

Belakangan ini saya baru berkenalan dengan penulis asal Brazil, Paulo Coelho, lewat karyanya tentunya. Saya akui perkenalan ini belum sempurna, sebab buku yang pertama saya baca bukanlah master piece darinya: The Alchemist, melainkan Like the Flowing River (buku ini sudah diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Seperti Sungai yang Mengalir). Namun justru dari situlah saya manaruh iri padanya.

Coelho banyak bercerita tentang sepenggal kisah hidupnya yang penuh dengan renungan yang dalam, juga tentang pelajaran besar dalam hal-hal yang kecil. Yang paling membuat saya iri adalah bagaimana ia mendapatkan itu semua dari perjalanannya ke berbagai penjuru negeri. Kepingan-kepingan keindahan hidup itu ia dapatkan dari desa yang sepi di Perancis, dari sebuah bukit di Kazakhstan, dari perjalanan pesawat ke Chicago, atau bahkan dari bar kosong di Tokyo. Dari Coelho saya mendapat banyak kebijaksanaan. Dari Coelho pula saya mendapat satu impian baru: keliling dunia.

Tapi bukan dia, penulis yang beristri seorang seniman itu, yang akan saya bahas banyak di sini. Ia hanya sebagai pengantar saja. Tanah di mana ia lahirlah yang menarik di sini. Brazil.

****

Di luar ruang sidang, terlihat seorang panitia sibuk menyiapkan makanan ringan dan minuman. Saya masuk ke dalam. Di ruangan berbentuk persegi panjang itu, PSQH (Pusat Studi al-Qur’an dan Hadis) sedang melangsungkan acara. Di sana sudah duduk seorang pembicara. Beliau didampingi seorang dosen dan satu moderator di sampingnya. Tiga orang berbicara di depan, 20 peserta yang duduk melingkar di depannya hanya mendengar. Sekilas, sang pembicara nampak seperti orang Indonesia: berpeci putih bundar, berbaju batik dan berkulit putih khas Asia. Terkadang beliau berbicara dengan bahasa Inggris, kadang bahasa Indonesia, kadang pula terceplos kata-kata bahasa Jawa.

Namanya Soedirman Moentari, ahli biologi, genetika dan peternakan. Beliau seorang Suriname, beragama Islam dan keturunan asli Indonesia.

Ya, mendengar Suriname rasanya begitu dekat dengan kehidupan Coelho tadi. Barangkali karena negara ini berada di Amerika Selatan, tepatnya di sebelah utara Brazil.

Secara personal saya tidak kenal dengan Pak Moentari, bahkan baru mendengar namanya saat ia memperkenalkan diri. Tapi saya merasa ada kedekatan khusus dengan beliau, mungkin karena pada dasarnya kami berasal dari tempat yang sama: Kediri. “Saya asli dari Suriname dan kakek saya dari Kediri.” tulis beliau, dalam perkenalannya.

Pak Moentari adalah satu lagi contoh nyata, bahwa bibit-bibit yang dihasilkan dari kota yang telah membesarkan saya, bisa unggul di manapun ia ditanam dan tumbuh. Mungkin jika ada kesempatan, bisa sedikit saya ceritakan kepada beliau, bahwa ada Bu Tri Rismaharini yang sukses memimpin Surabaya dan beberapa kali masuk di daftar walikota terbaik dunia. Ada pula Jenderal Moeldoko yang kini menjabat panglima dan memimpin Tentara Nasional Indonesia (TNI). Mereka adalah bibit-bibit berkualitas yang diekspor dari kota kami, Kediri.

Begitu juga dengan Pak Moentari. Banyak hal mengesankan dari pertemuan singkat dengan beliau kemarin, yang pada akhirnya membuat saya kagum. Bagaimana tidak, berbicara tentang jumlah bahasa yang beliau kuasai saja hampir tidak bisa saya hafalkan. “Karena komunitas di Suriname terdiri dari berbagai bangsa maka saya bisa memakai bahasa Jawa (Ngoko dan Krama), Belanda, Inggris, Jerman, Spanyol, Taki-taki (Suriname), Hindustani (India), Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab.” tulis beliau. Kadang saya berpikir, Indonesia yang sama terdiri dari multi-bahasa saja saya masih kesulitan menguasai sebagian kecilnya. Saya masih payah berbahasa Sunda, sudah lupa kosakata bahasa Aceh yang pernah saya hafal, juga selalu tidak sempat belajar bahasa Bima. Padahal sudah sekitar tiga tahun saya tinggal di Jogja, kota yang dijuluki “Mini Indonesia” karena keragamannya ini.

Benar, jika beliau adalah alumnus peternakan di University of Wageningen dan biologi di University of Leiden. Tapi, salah jika kita beranggapan bahwa beliau hanya berkutat pada keilmuan tersebut saja. Pak Moentari termasuk dalam daftar orang gigih yang pernah saya jumpai. Beliau adalah pejuang Islam (umumnya) dan al-Qur’an (khususnya) di Suriname. Beliau bercerita bahwa di negaranya sangat sulit menemukan Kiai (guru mengaji), kalaupun ada, orang yang berniat ingin mengaji seringkali harus menempuh jarak jauh untuk sampai ke tempat sang guru. “Beda dengan di Indonesia yang guru ngajinya teng telecek (ada di mana-mana).” ujarnya, terkekeh.

Saya katakan pejuang Islam, karena sejak tahun 1985 sampai 1993 beliau aktif di Stichting der Islamitische Gemeenten in Suriname (SIGS). SIGS adalah organisasi Islam terbesar di Suriname. Lima tahun terakhir di sana beliau menjabat sebagai ketua. Lalu pada tahun 1993 sampai 1999 beliau banyak melakukan dakwah Islam di Belanda, dan menjadi Imam serta ketua organisasi Islam di sana. Di samping menjadi pendakwah dan aktif dalam organisasi Islam, Pak Moentari juga seorang dosen biologi di kelas. Meski saat ini beliau sudah pensiun dari pekerjaannya.

Saya katakan pejuang al-Qur’an, karena beliau juga mengajar al-Qur’an di sana. Satu yang ingin saya komentari ketika mendengar beliau melantunkan ayat suci al-Qur’an adalah, bacaan tajwidnya sungguh bagus. Meski beliau menyadari di Suriname belum ada acara-acara semacam Musabaqah Tilawatil Qur’an seperti di Indonesia, karena di sana membaca al-Qur’an dengan benar saja sudah dianggap cukup baik. Namun beliau juga menyayangkan bagaimana guru-guru mengaji di Indonesia tidak menggunakan tajwidnya dengan benar ketika mengimami shalat, meskipun sang guru ngaji bisa mengajarkannya pada murid-muridnya. Tentunya ini tidak bisa digeneralisasi. Barangkali para guru ngaji “khusus” inilah yang sering disebut Emha Ainun Nadjib sebagai Kiai Jarkoni: iso ngujar ra iso ngelakoni (bisa mengucapkan tak bisa mempraktikkan).

Seorang dari peserta bertanya, “Apakah ada metode semacam Iqra’ untuk tahap awal belajar al-Qur’an di sana, sebagaimana di Indonesia?” Pak Moentari menjelaskan, bahwa di Suriname maupun Belanda, banyak orang yang mengaku Muslim dan tetap ingin menjadi Muslim. Mereka ingin belajar shalat, membaca al-Qur’an, tapi keinginan mereka muncul ketika mereka sudah tua, sehingga mereka tak punya waktu banyak untuk belajar membaca al-Qur’an, yang nantinya bisa digunakan untuk praktik-praktik ibadah dan sosial-keagamaan, seperti shalat, tahlilan, mengurus jenazah, acara syukuran, pernikahan, dan lain-lain.

Dari sini Pak Moentari menawarkan cara kreatif sebagai metode belajarnya. Beliau menggunakan digitalisasi al-Qur’an untuk mengajari murid-muridnya. Sebuah metode yang terdengar sederhana, namun sangat mengena dan juga relevan dengan konteks keislaman di Suriname dan Belanda. Berhubung relasi guru dan murid di sana sangat terbatas (ruang dan waktu), digitalisasi al-Qur’an merupakan alternatif efektif untuk belajar al-Qur’an ketika waktu harus memisahkan antara sang guru dan murid. Digitalisasi tersebut mencakup ayat-ayat al-Qur’an yang terpapar di layar komputer yang dilengkapi dengan suara dari para qari, panduan tajwid, juga tentang bagaimana cara menulis huruf hijaiyah (Arab) memakai papan ketik. Selain melalui digitalisasi, Pak Moentari juga membuat boklet semacam buku kecil, untuk lebih mempermudah proses belajar. Dari situ, sang murid akan dengan mudah menghafal dengan mengulang-ulang dan mempelajari macam-macam huruf hijaiyah beserta penulisannya dalam al-Qur’an. “6 kali pertemuan murid-murid sudah bisa membaca al-Qur’an dengan mad dan sukun, dan 12 kali pertemuan mereka sudah bisa tajwid dan menulis Arab al-Qur’an.” ucap beliau, memberi bukti.

Banyak pelajaran yang saya dapat dari kegigihan beliau dan perjuangan beliau. Pak Moentari mengajarkan bagaimana kita tak harus terpaku pada satu bidang saja. Kita bebas mengeksplorasi bidang-bidang lain, baik bahasa hingga pengetahuan, asal kelak hal tersebut dapat mendatangkan manfaat bagi banyak orang. Sama halnya dengan Paulo Coelho, saya menaruh iri pada Pak Moentari atas kegigihannya mencapai sesuatu, meski itu artinya harus dilakukan dengan otodidak.

Ya, dua inspirasi pun datang dengan tak sengaja dari Amerika Selatan, belakangan ini.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku: Antara Isi dan Harga Diri

Mistisme